Ternyata gak cuma malem ja ngantok ya. Pagi-pagi gini juga ngantok rupanya. Padahal udah pagi la. Udah jam 2 pagi ni.
Sambil ngantok-ngantok ku ketik lah artikel ini. Begini ceritanya..... hiiii,hi,hi,hi
Setelah proses instalasi (huah... kembali segar) Klik administrator di website kawan2. Keluar tampilan login seperti ini :
Isikan dengan username dan pasword yang diberikan saat registrasi (yang sebelumnya sudah dicatat). Username dan pasword ini bisa kita rubah nanti di control panel administrator. Muncullah control panel itu :
Mari kita awali dengan global configuration
Ini cukup penting untuk mengetahui setingan dari website yang akan kita buat. Default joomla teah memberikan semua yang kita butuhkan. Namun ada baiknya jika kita mengetahui agar dapat mengubah-ubah sesuai dengan apa yang kita ingin kan. Tampilannya begini ni kan ?
Ok. Mulai dari Site.
Di situ ada Site offline. Kalo web kawan udah dihosting. trus mau ngupload isi baru, so webnya gak bisa diakses. Atau dengan sengaja meng off kan karena mengisi di hostingan. Nah pilih yes kalo mau ada pesan pemberitahuan pada pengguna yang sedang ngintip-ngintip web kawan. Kalo gak. no kan saja.
Hapus ja default dari joomla di offline message. Tp tanda '<'br/'>' nya jangan diapus. buat turun ke bawah tu.
System error message keluar jika ada error akses data base atau akses ke sistem global Atau kesalahan yang anda buat sendiri pada settingan. Tulis lah apa gitu.
Selebihnya yeskan saja. Tapi kalau kawan gak mau link Unauthorised nya keliatan yang ini bagus di no kan. Dan kalau gak perlu debug site. No kan aja.
Default WYSIWYG Edito, ini penting.... Untuk menuliskan HTML sendiri atau memakai yang joomla sediakan. Saran saya pakai saja TinyMCE WSYSIWYG Editor. Jadi nanti pas nulis content (Content tu kalo gak salah artikel2 yang jadi isi web kita) gak da tu menu bar yang bantu kita. Dengan susah payah la mau nulis. Tp kao sewaktu-waktu mau masukin HTML ya kita pilih yang noTinyMCE WSYSIWYG Editor. Nanti kita bahas kapan dipakenya. Sekarang pilih tiny aja. Yuuuuk
*Locale
Buat ja seperti gambar di atas. Biasa la
*Content
Aku sih buat pengaturan gitu. Ni buat settingan content. Isi web. Rating-nya ku no kan. Nanti kita pake component aja buat rating. Na soal component kita bahas nanti. BUat gini aja dah. Nyaman euy
Langsung lompat ke meta tag. Yang laennya biarin aja. Tp di session da pengaturan Kapan tertutupnya waktu kunci admin kalo gak dipake. Tp biarin ja bawaan joomla. Sudah dilakukan penelitian dan bla,bla,bla perhitunga waktu ini.
*Meta Tag
Buat deskripsi web anda. Ini penting. Agar web anda mudah di cari dengan mesin pencari (Google, Yahoo, Msn dll). Buat yang dapat MenJUAL... Begitu juga dengan Keywordnya. Jadi kalo ada orang yang googling, langsung deh sampe di web kawan.
Mail,Isi aja. Cache, statik biarin ja. Lompat ke SEO
*SEO
Ni buat search Engine-nya. Pilih no dulu aja untuk search engine frienly. Kita kan belum hosting. Nanting kalo udah hosting piih yes biar situs kita dikenali search engine. Nanti kalo pilih yes ada peringatan untuk mengubah htacces.txt menjadi .htacces, nanti kita lakukan.
Huahhh.... Kantuk semakin menyerang. Tatap mulai nanar. Fikir ini mengatup tajam. Membuatku harus mengakhiri tulisan ini. Kawan. Nanti kita sambung lagi ya. Tidor dulu.
Selengkapnya...
Senin, 02 Februari 2009
Tutorial Joomla 2; Mengenal Control Panel Joomla
Sabtu, 31 Januari 2009
Novel Download Habiburrahman
Berikut novel-novel dalam bentuk ebook yang dapat kawan-kawan download. Tapi rada gak enak juga la sama yang buat novelnya. Mudah-mudahan gak marah (pasti marah kayaknya). Na, bagi kawan-kawan yang ragu-ragu baiknya jangan di download. Tapi yang gak takut dosanye, mari berbagi dosa. RIngan sam dijinjing, berat pikul sendiri.
* Novelnya kang Abik.
Ni novel fenomenal yang super keren. Sayang filmnya kagak sekeren ni buku,,, fiuh,,,, Pertama kali baca aku cuma butuh 3 jam. Ngalir banget euy ceritanya. Fantastis. Yang belum baca (bukan nonton filemnya lo) wajib dah pada baca. Keren lo. Bisa nambah iman , dan juga nambah wawasan. Soalnya penggambaran mesirnya itu bisa buat serasa kita da disitu. Kan lumayan gak usah mahal-mahal. Cuma 50rb kok. Nih download ayat-ayat cintanya di sini
Ni novel sama kerennya. Tapi yang ini penokohannya, suer deh, keren banget. Bisa ngebangun dari beberapa tokoh gitu. Cerita masih setingan mesir. Keren dah. Bentar lagi juga mau keluar filemnya.Mudah-mudahan lebih baik dari AAC. amiiiinnnn. Download ketika cinta bertasbih 1 nih di sini
Ni lanjutan dari Ketika cinta bertasbih 1. Dah pulang tu tokoh utama ke indonesia. Pokoknya yang biasa idup susah kerasa banget dah baca ni novel. Download ketika cinta bertasbih 2 di sini
Yang ni novelet. Gabungan dari novel-novel singkat gitu. keren juga. Bagi yang gak doyan baca cerita panjang-panjang. Baca ni aja. Silahkan download di sini
Sebuah cerit untuk mereka yang mencintai kesempurnaan. Dan mengabaikan sesuatu yang lebih, bahkan jauh lebih sempurna dibanding yang pernah ia bayangkan. Novel singkat yang menyentuh. Percayalah bahwa kita sering mengabaikan sesuatu yang selalu dekat dengan kita. Dan begitu ingin menggapai yang lain. Hingga akhirnya kita sadari betapa berharganya ia ketika ia telah meninggalkan kita.... cie,,,,cie,,,,, fiuit.....
Na... download pudarnya pesona cleopatr di sini
Buat koleksi ini juga keren lo. Nih downliad ketika berbuah surganya di sini
Ini juga silahkan di koleksi. Download mahkota cinta di sini
Download nyanyian cinta di sini
Selengkapnya...
Jumat, 30 Januari 2009
Tutorial joomla 1; Membuat Website Dengan Jooomla
Apa itu Joomla???
Joomla adalah content management system (CMS) yang Open Source.Seperti kita ketahui banyak sekali terdapat jenis-jenis CMS, diantaranya adalah Mambo, Drupal, Geeklog, Post-Nuke, dan lain yang buanyak banget.....
Secara mudahnya, dengan CMS seperti joomla, kita dapat membuat website tanpa perlu terlebih dahulu mengetahui bahasa pemrograman WEB. Keren kan!!! Saya juga baru coba menggunakan joomla dan rupanya enak lo. Tapi untuk lebih lanjutnya, tentu kawan-kawan perlu juga mempelajari bahasa pemrograman web seperti HTML, PHP, ASP dll lah. Biar tambah jago. Mudah-mudahan ini bermanfaat.
1. Instalasi Joomla
Kita dapat menginstal joomla secara on-line di internet. Yaitu melalui web hosting. Bagi yang baru mulai, web hosting adalah tempat kita menitipkan file website kita yang akan diakses orang banyak. Gito kale. dan kegunaan laen2nya lah dari web hosting. Na.... Temen2 bisa bisa ngehostingin di hostingan yang gratisan ataupun yang bayar. Ada keuntungan dan kerugiannya sih. Tapi kalo saran saya sih untuk pemula yang isi dari websitenya gak terlalu besar (Belum lebih dari 200Mb) hostingin aja di hostingan gratis. Aksesnya lumayan cepet kok. Banyak sekali hostingan gratis seperti ifastnet.com, 00webhosting.com dll. Nah.... Intinya sekarang kita bahas tentang instalasi secara off-line saja. Jadi gak perlu koneksi ke internet dulu. Ntar ja kalo udah kelar, baru kita hostingin. ok Bro!
2. Instalasi Joomla secara off-line
* Kawan harus punya dulu dua softwarenya. Yang pertama XAMPP buat database dan ngejalaninnya serta joomla itu sendiri na silahkan download XAMPP di sini, atau di sini. Untuk joomla, sekarang sudah ada versi 1.5 sekian tapi aku masih pake yang versi 1.0, entarlah kita migrasi. Na download joomla 1.0-nya di sini, atau di sini.
* LAngkah selanjutnya instal XAMPP. seperti biasanya. Tapi kalo bingung, tuing,tuing, download ini aja nih....
* Berikutnya exstract file joomla 1.0-nya dan buka instalan XAMPP. Buka program file, cari file XAMPP, cari file htdocs. DI htdocs buat folder yang terserah kawan-kawan namanya pa. Tapi ada baiknya namanya sesuai nama website yang akan dibuat biar gak bingung. Di folder itu, misalnya websiteku, paste extractkan joomla 1.0 di situ.
* Jalankan XAMPP, Klik saja yang ada di desktop atau di all program. Setelah itu di XAMPP control panel, klik start untuk Apache dan MySql. Dan untuk di ingat. Jika kawan menyudahi pekerjaan kawan, jangan lupa menyetop Apache dan MySql di XAMPP control panel agar XAMPP tidak bekerja terus menerus dan mngakibatkan komputer kawan menjadi lambat.
* Buka internet explore atau mozila kawan. Ketik di alamatnya localhost/websiteku(nama folder yang tadi di buat di htdocs). Akan terlihat tampilan instalasi joomla.
Isikan
- Host name : isikan dengan localhost
- MySQL Username : isikan username, lihat di database, axxxxxx_username
- MySQL Password : isikan dengan password untuk database
- MySQL Database name : isikan dengan nama databasi axxxxxx_joom1
- MySQL Table Prefix : sebaiknya jangan dirubah
* Ketik next dan akan terlihat step 2. Step ini di next kan aja. sehingga terlihat step 3 sperti berikut :
Kolom isian pada bagian ini. Pada kolom URL dan Path biarkan saja terisi seperti defaultnya. Pada kolom Your Email isikan alamat email yang akan menjadi alamat email untuk administrator website. Pada kolom Admin Password isikan password untuk administrator website. Tekan NEXT>> untuk mengakhiri step ini dan menuju pada step 4.
Disana disebutkan usename dan password untuk administrator website. Ingat-ingat ya...,jangan sampai lupa username dan passwordnya. Kalo perlu dicatet dulu.
Selesailah proses instalasi dan akan muncul pemberitahuan bahwa kawan harus menghapus folder instalasi di file kawan.
* Buka program file di C atau di mana pun tadi kawan instal XAMPP. Buka XAMPP, htdocs lalu file website kawan. Hapus folder instalasi di situ. Setelah itu buka broser kawan (internet explorer atau mozila) ketik localhost/websiteku(nama folder td) dan enter. Tampil deh template default dari joomla.
Untuk memodifikasinya klik administrator di situ. masukkan username dan pasword yang diberikan saat instalasi. Dan terlihat menu bar joomla.
Nah.... sampe di sini dulu ya. Nanti kita bahas lagi menu barnya. Semoga bermanfaat
Selengkapnya...
Rabu, 28 Januari 2009
cerpen
Permintaan Malaikat Maut
Suara azan berteriak-teriak di telingaku ini. Haiya’alasholaah. Haiya’alassholaaaah. Berisik sekali. Lebih berisik dari gemerisik seng kalau malam berangin. Bahkan lebih berisik dibanding dengkur si gendut sialan. Sudah berisik, makan tempat pula. Angin sesekali datang berhembus dari sela-sela papan yang menganga. Membuat kulitku yang keriput tambah mengkerut. Angin pun mendesis lirih. Berisik sekali pagi ini. Mataku tetap ku pejam. Sedikit lebih banyak ku buat tumpukan kardus menggunung di tubuh ini. Hawa dingin membuatku menggigil.
Cahaya kemerahan senantiasa mengintip dari fentilasi. Ah, banyak sekali rupanya fentilasi di rumahku, “Hai pagi! Jangan dulu kau ganggu aku. Aku sudah malas rasanya berjumpa dengan mu. Biarkan aku lebih lama bercengkrama dengan kegelapan malam. Aku tenang dibuatnya. Sedang kau pagi, alah! Apa yang kau tawarkan. Berkali-kali kau jumpakan aku dengan neraka Jahanam.” Aku mencoba untuk terlelap. Berdiam dalam posisi ternyaman yang dapat ku buat dan menunggu dengan sabar. Hingga seluruh dunia ini menghilang.
Baru beberapa menit kurasakan kenyaman, tiba-tiba suara berisik kembali datang. Bukan teriakan azan atau dengkuran gendut yang mengusik. Tapi suara ketukan pintu. Berkali-kali ia mengetuk sampai akhirnya tak sabar aku dibuatnya. “Siapa kampret yang pagi buta nyamperi rumahku. Tak tau adat rupanya.” Aku bangkit. Menendang gendut yang menghalagi jalan. Belum sampai aku menarik pintu papan usang ini, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Entah angin apa yang membuatnya terbuka. Angin ini menyentuh kulitku. Bahkan menyibak rambutku yang kering berantakan. Tiba-tiba setelah itu semua sunyi. Tinggalah berdiri di hadapan ini sesosok hantu yang sangat tinggi. Bergaun hitam dan mukanya sangat beringasan. Ia membawa aroma penderitaan, siksaan dan kuburan. Aku menatap tajam padanya.
“Hei! Mau apa kau ke sini?”
Tamu itu terbelalak heran. Seketika saja ia sudah ada di depan mukaku. Entah kapan ia berjalan. Ia berbicara, “Tak takutkah kau dengan aku wahai manusia?”
“Mengapa aku harus takut berjumpa dengan mu?”
“Apakah kau tak merasakan aromaku? Apakah kalbumu tak bercerita akan siapakah aku ini?”
“Aroma penderitaan, siksaan dan kuburan memang lekat ku rasakan. Kenapa rupanya?”
“Aku adalah Malaikat Maut!”
“Oh, Malaikat Maut kau rupanya.”
Tamu ini kembali kaget. Bahkan kali ini kepalanya tertarik ke belakang.
“Tidakkah kau takut padaku? Dengan kembaranmu yang menyedihkan itu, bukankah seharusnya kau begidik ketika aku datang menemuimu.”
Aku mengamati sekeliling. Hanya ada si gendut yang mendengkur tak terganggu. Aku kembali berkata padanya, “Kenapa aku harus takut? Kau hanya mengisaratkan penderitaan, siksaan dan kuburan. Tau kau! Bosan aku dengan itu semua. Setiap pagi, bahkan sejak pagi buta, telah datang padaku jahanam bersama songsongan fajar.”
Mata Malaikat Maut melotot. Aku membuatnya penasaran.
“Aku tak pernah tau akan keberadaannya. Siapa dia?”
“Mau tau kau? Dia itu kemiskinan. Dia akan membuatmu lapar seharian. Ah, tidak! Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu jika nasibmu sial. Kau akan merasakan kehinaan yang amat sangat. Manusia akan bergidik melihatmu. Kau akan dipukuli tramtib jika ketauan tidur di trotoar. Kau akan disangka pencuri jika masuk tempat perbelanjaan. Bahkan jika ada preman yang mabuk, kau akan jadi sasaran empuk latihan tinjunya. Itu akan kau rasakan jika kau bertemu dengan kemiskinan.”
“Pertemukan aku dengan kemiskinan. Pertemukan!” nafasnya memburu.
“Bagaimana kau bisa bertemu dengan kemiskinan. Kau adalah malaikat. Dan malaikat mana punya nafsu.”
“Aku akan menjadi manusia untuk beberapa saat. Kau tunggu aku besok pagi. Kau masih punya tiga hari. Bawa aku bertemu dengan kemiskinan dua hari. Baru setelah itu aku akan membawamu.”
“Terserah kau saja.”
Tiba-tiba Malaikat Maut itu menghilang. Sekejap saja. Udara kembali dingin. Malam masih menyisakan ujung usianya. Aku kembali tertidur.
Keesokan harinya aku menunggu Malaikat Maut dengan sabar. Kira-kira setengah jam setelah azan subuh barulah ia datang padaku. Bahkan aku tak tau kapan pastinya ia menginjakkan kaki di kardus-kardus itu. Ia berbeda dengan yang kemarin. Perawakannya sungguh rupawan. Yah, walaupun ia masih terlihat sangat garang. Malaikat maut mengenakan pakaian resmi masjid. Itulah julukanku pada baju koko, sarung dan kopiah putih. Berbeda sekali ketika ia menemuiku pertama kali.
“Hei Malaikat Maut! Kenapa tampangmu ini.”
“Kenapa?” tanyanya.
“Kau tak akan bertemu kemiskinan jika setelanmu seperti ini.”
“Aku baru dapat tugas. Tunggu sebentar kalau begitu.”
Sekejap saja ia sudah berubah. Tinggi dan postur tubuhnya sama denganku. Pakaian yang digunakannya pun sama denganku. Hanya wajah garangnya yang enggan ia ubah menyerupaiku.
“Kau harus seperti manusia. Kau harus lapar. Kau harus haus. Kau harus mengantuk. Kau harus merasakan seperti seorang manusia merasa.”
“Aku sudah seperti itu. Sekarang, pertemukan aku dengan kemiskinan.”
“Benar kau sudah seperti manusia?”
“Benar!” ia berteriak.
“Kalau begitu. Tunggulah disini hingga siang datang.”
“Mengapa harus siang?” malaikat maut menghardik. Teriakannya membangunkan si gendut.
Malaikat maut benar-benar menjadi manusia sekarang.
“Hei! Kamu siapa?” tanya si gendut setengah berbisik.
“Dia kenalanku. Udah sana tidur lagi!”
Gendut begitu patuh. Ia kembali mengatupkan matanya. Aku menatap Malaikat Maut dan berkata, “Kenapa katamu? Supaya kau tau apa itu lapar. Itu adalah syarat terpenting untuk jumpa dengan kemiskinan.” Malaikat Maut diam saja. Buat apa pusing mikirin dia. Aku kembali merebah.
Selepas zuhur ku bawa Malaikat Maut keluar. Si gendut sudah menghilang entah ke mana. Jika ia mulai lapar, ia akan pergi berkeliaran. Aku meninggalkan rumahku. Berjumpa dengan puluhan rumah lain di areal lapang ini. Tak jauh dari kami, tepatnya 100 meter ke barat, akan tampak segunung sampah yang menghitam. Tiada ku besar-besarkan itu. Memang segunung bayaknya. Bahkan tanah yang kami sedang pijaki ini pun telah terlapis sampah. Rumah-rumah kami adalah sampah. Kami hidup berkeluarga dengan lalat, kecoa dan aneka binatang pengerat lain di sini yang juga pecinta sampah. Kami memang pecinta sampah. Tapi biasa mereka bilang kami pemulung.
Aku dan Malaikat Maut berjalan melewati beberapa orang yang sedang sibuk memilah sampah hasil pungutannya sejak pagi. Mau mereka jual. Ada karung-karung botol aqua, minuman ringan, kaleng-kaleng makanan, sampai kabel yang akan dibakar terlebih dahulu sebelum dijual, untuk mendapatkan tembaganya.
“Hei kau! Kita akan melakukan itu?” Malaikat Maut menunjuk orang-orang yang memilah sampah ini.
“Ah, buat apa seperti itu. Buang-buang tenaga. Toh uangnya juga mana cukup buat makan. Kita mau ke kota. Munguti sampah yang bisa dimakan. Instan. Tinggal makan”
Malaikat Maut diam saja. Entah ia mengerti atau tidak. Lalu aku bertanya padanya,
“Hei Malaikat! Apa kau sudah lapar?”
“Aku tak tau apa itu lapar. Tapi kurasakan perutku sakit. Dan kelihatannya apa yang dilakukan orang itu akan membuat perutku nyaman.” Malaikat Maut menunjuk Junet yang sedang menyuapi anaknya.
“Junet! Udah bisa makan kau ya!” ku sapa junet ketika melaluinya.
“Alhamdulillah Bang.” sahut Junet dari teras rumahnya. Yah, jika kita mau menyebut pekarangan sempit dengan dua kursi bekas itu teras. “Bang! Sudah melayat bang ke tempat pak Ripai?” tanyanya menyusul.
“Melayat?” aku terdiam sejenak, “Siapa yang meninggal?”
“Pak Ripai Bang! Tadi subuh meninggal di masjid. Aku sama bang Sabri yang bawa pulang. Tadi pagi lagsung dimakamin.”
“Nanti la aku ke sana”, sahutku pelan. “Aku sudah lapar. Pergi aku ya!”
Junet hanya mengangguk sambil menyuapi anak perempuannya yang masih kecil. Aku dan Malaikat Maut terus berjalan. Melalui orang-orang yang sibuk memilah sampah atau pun sibuk memanggulnya menuju mandor Rusli di pangkalan depan. Aku dan Malaikat Maut terus dan terus berjalan hingga sampai ke tepian kota. Peluh mulai bercucuran.
“Apa kau lelah dan haus Malaikat Maut?” tanyaku sembari mengatur nafas.
“Aku belum pernah merasa tubuhku hilang tenaga. Bahkan baru kali ini kurasakan kerongkongan yang menyekik. Di mana kemiskinan?” tanyanya tetap kasar.
“Tak lama lagi kau akan berjumpa dengannya.”
Kami kembali berjalan. Di sepanjang gang-gang perumahan aku sibuk mengais sampah. Mencari dan terus mencari sisa-sisa makanan yang ditinggalkan dengan antusias. Aku sudah sangat lapar.
“Hei Malaikat! Bantulah aku!”
Malaikat hanya diam. Ia biarkan aku sibuk dengan urusanku. Aha! Aku menemukan nasi bungkus yang tak habis dimakan. Ada juga sisa air putih yang dibuang. Ini rezeki besar. Aku langsung memakannya dengan lahap. “Tak mau makan kau rupanya Malaikat. Atau tak tau kau caranya makan?” tanyaku pada Malaikat Maut yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
“Aku tau bagaimana cara manusia makan. Dan aku pun tau bagaimana binatang makan.” Malaikat Maut kembali diam. Aku tak peduli sindirannya. Aku terus melahap makananku.
Waktu terus beranjak mengiringi mentari tenggelam bersama sinarnya. Petang telah datang. Aku sudah cukup kenyang. Hari ini banyak sekali makanan. Keberuntungan besar rupanya membawa Malaikat Maut bersama. Malaikat Maut masih saja diam. Hingga kami kembali pulang ia tetap diam. Sediam gendut yang lelap di sudut ruangan. Perjalanan jauh ditambah terpaan terik rupanya tak membuat Malaikat Maut kelaparan. Aku gagal mempertemukannya dengan kemiskinan hari ini. Ia mempertanyakan lagi keberdaan kemiskinan, “Mana kemiskinan itu?”
“Rupanya hari ini ia enggan menjumpaimu. Tunggulah besok. Pasti ia akan datang,” Malaikat Maut kembali diam, “Cobalah untuk tidur. Itu akan meringankan penderitaanmu.” aku hanya menerka raut mukanya. Ia sedang menahan sakit. Tapi biar saja. Aku merebahkan tubuh ini yang sudah sangat lelah. Malam ini aku akan tidur nyenyak.
Hari telah siang ketika ku buka pejaman mata. Wajah Malaikat Maut langsung terlihat di depan mata. Rupanya menakutkan. Matanya bengkak dan tatapannya merintih. Ia kemudian berkata, “Pertemukan aku dengan kemiskinan.”
Aku langsung bangkit dan dan terduduk di atas kardus. Mengembalikan seluruh kesadaran yang masih tertidur. “Kau tidak tidur Malaikat Maut?” tanyaku sambil menguap.
“Aku tidak bisa memejamkan mata. Entah kenapa perutku melilit. Kerongkonganku pun terus mencekik. Sedang tubuhku lemas tak ada daya.”
“Aku yakin hari ini kau akan bertemu kemiskinan,” aku tersenyum puas. Aku bangkit dan mengajaknya keluar. Kami kemudian berjalan. Kali ini menuju kawasan perumahan di pinggiran kota lainnya. Matahari begitu teriknya memanggang dunia. Tak menghiraukan anak-anak jalanan yang beradu ganas dengan kencangnya kendaraan. Peluh mereka bercucuran. Seperti peluhku yang terus mengalir menguras energi yang bermuara di perut ini. Aku dan Malaikat maut terus berjalan.
Kami menyisiri pagar belakang perumahan kemudian mencuri jalan menuju gang-gang depan. Hingga akhirnya menatap dari depan rumah-rumah semen yang berdiri kokoh. Sepi di sini. Mereka rupanya enggan beradu dengan mentari. Aku langsung mencari tong sampah. Mataku menyisiri ruas-ruas jalan. Dan begitu dapat, langsung ku buru dengan langkah seribu. Malaikat Maut masih saja diam membiarkanku bergelut dengan sampah-sampah.
Sungguh apes hari ini. Sudah beberapa jam mencari belum ada makanan berarti yang ku dapat. Hanya beberapa potong biskuit dan sisa jus yang hampir mengering masuk dalam perut ini. Beriring redupnya mentari berkeliaran pula penduduk di sini. Beberapa kali kami diusir dari tatapan mereka. Bahkan, seorang ibu-ibu menghunus-hunuskan sapu ketika aku sedang asik mencari-cari sesuap nasi. Waktu terus berjalan. Aku semakin kelaparan. Tiba-tiba Malaikat Maut mendahuluiku mengais tong bertumpuk sampah yang berada dipinggiran halaman rumah. Rumah ini tak memiliki pagar. Ia mencari dan terus mencari. Ekspresi mukanya tidak berubah. Masih garang. Ia sangat khusuk dengan apa yang ia lakukan. Akupun takjub dibutnya sampai tak sadar seorang lelaki mendekati Malaikat Maut dan “Puk!” Ia memukul kepala Malaikat Maut yang masih menukik ke dalam tong sampah . Seketika itu langsung ku tarik tangan Malaikat Maut dan lari menjauh. Lelaki itu berteriak-teriak, “Woi! Dasar kampret!” Orang-Orang yang lain menonton kami berlari. Wajah mereka garang seakan-akan kami pencuri. Malaikat Maut diam saja dan mengacuhkan segalanya.
Jalan raya menghentikan langkah kami. Nafas kami ngos-ngosan. Malaikat Maut tak sedikit pun berkata apa-apa. “Untung saja bisa lari,” kataku sambil jatuh terduduk.
“Kerongkonganku sakit sekali,” Malaikat Maut membuka kata.
Aku hanya tersenyum, “Ayolah kalau begitu. Kita ke terminal. Banyak di sana makanan.”
Kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri tepian jalan raya yang ramai kendaraan lalu lalang di sana. Mereka akan kembali pulang seperti pipit kecil yang tak lagi bercicit ketika malam menjelang. Diam dalam peraduan hangat sarang jeraminya. Cahaya mentari berganti sinaran redup lampu-lampu jalan. Malam semakin kelam.
Kami akhirnya sampai di terminal. Masih ada cukup banyak orang duduk-duduk menanti keberangkatan. Kenalpot bus menderu-deru menghasilkan kebisingan dan asap hitam yang mengepul pekat. Kami berjalan menyisiri tepian. Menjauhi tatapan keramaian. Tidak ingin mengusik karena tak ingin diusik. Mengendap endap dan sejurus kemudian, tanpa ku sadari, dengan gesit Malaikat Maut mengambil aqua botol yang masih tersisa air di daamnya. Dengan nafas yang memburu ia minum dua pertiga isinya. Kemudian terdiam sejenak dan memberikannya padaku. Aku menghabiskannya dengan cepat. Wajah Malaikat Maut bertambah garang. Sedang aku tersenyum lega.
Kami kembali berjalan melewati kursi-kursi belakang yang telah kosong. Mencari sisa-sisa yang tertinggal atau sengaja dibuang untuk dimakan. Sekian lama mencari namun tak ada juga yang kami temui. Malaikat Maut berjalan sedikit ke depan. Melalui orang-orang yang risih menatapnya. Ketika ia melalui kedai makanan dan merapat ke sana sontak pemiliknya berteriak nyaring, “Hus... hus… Pergi! Pergi sana!” Sambil mengacung-acungkan centong yang dipegangnya. Malaikat Maut menyingkir ke tepian. Tetap tak berkata apa-apa dan terus berjalan.
Kami sampai di tempat sampah utama di sini. Di payungi sinaran jingga lampu jalan, kami mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan. Di sini sangat bau. Wajar jika tak ada manusia lain di sini kecuali beberapa ekor anjing yang ikut mengais sampah. Aku dan Malakat Maut terus mencari. Sesekali menemukan sisa roti atau makanan lain yang seketika itu pula kami makan. Namun hari ini sungguh sial. Belum lama kami mencari, tentara kuning dan tank besinya menyiduk semua lahan pekerjaan kami. Kami hanya diam menyingkir karena mereka bawa penggaruk besi yang bisa menyayat kulit ini. Kami lalu pergi beralih.
Aku dan Malaikat Maut berjalan gontai disepanjang totoar terminal. Malaikat Maut tetap garang dalam diam. Aku sih biasa saja. Toh kejadian ini sering menjumpaiku. Orang-orang mulai berhilangan disini. Meninggalkan bus-bus diam menanti dalam sunyi. Tapi masih ada beberapa lagi berdendang ria sambil berjoget di pangkalan terdepan. Malaikat Maut ternyata menuju ke arah mereka tanpa ku sadar. Rupanya ia melihat sisa makanan betebaran di sana. Ia mulai memunguti sisa-sisa biskuit atau kacang kulit. Aku langsung berlari ke arahnya. Namun sungguh sial. Sebelum aku bisa mengait Malaikat Maut pergi suasana sudah terlebih dahulu gaduh. Mereka berbicara tak jelas. Menghardik-hardik lalu lainnya memprovokasi. Salah seorang mengejar kami dan, seperti dikomando, lainnya mengikuti. Kami berlari keluar tapi sungguh kalah cepat. Kami tak banyak tenaga. Di areal luas tempat bus-bus biasa menunggu penumpang inilah kami dihajar sesuka mereka.
“Ampun Bang! Ampun,” aku mengiba.
“Dasar sompret. Anjing alas!” dan pria ini menghujamiku dengan bogem mentah. Telak di wajah.
Setelah puas, mereka satu persatu pergi. Sebelum pergi ada satu dua orang yang menyisakan tendangan-tendangan ke perut kami. Bahkan ada yang sampai meludah. Aku mengerang kesakitan. Baru kali ini aku dipukuli preman hingga sakit seujur badan. Tubuhku gemetar kesakitan. Sementara Malaikat Maut tak meringis sedikit pun. Ia dengan susah payah berdiri dan menatapku seakan berkata ayo berdiri. Aku mengumpulkan sisa tenaga dan mulai bangkit. Terdiam sejenak lalu mulai berjalan lunglai. Hampir subuh ketika kami sampai di rumah.
Aku duduk bersandar dan melemaskan sekujur tubuh. Kami berdua tak berbicara apa-apa beberapa saat. Hanya bunyi hewan malam dan dengkur gendut yang membuat bising suasana. Aku menyeka luka dengan kain-kain bekas. Kulitku nyeri menusuk-nusuk. Tulangku gemetar ngilu. Kepala ini pusing tak karuan. Sungguh teramat sakit tubuhku ini. Sementara Malaikat Maut masih saja berdiri diam. Wajahnya masih garang. Ia terus saja menatapku. Namun di balik rasa sakitku ini aku merasakan kepuasan yang amat sangat. Aku bahkan ingin tertawa dibuatnya.
“Hei Malaikat Maut!” Aku terdiam sejenak, “Kau mau berjumpa dengan kemiskinan bukan!”
“Benar. Di mana dia.”
Aku tersenyum sendiri sambil membenarkan posisi duduk, “Kau baru saja berjumpa dengannnya.”
Mata malaikat Maut Melotot. Wajahnya tambah garang. Nafasnya di tarik jauh ke dalam. Ke lihatannya ia tidak puas. “Aku belum menemui yang serupa jahanam seharian ini. Kau jangan coba menipuku!” Malaikat Maut berteriak marah.
Aku menanggapinya santai, “Apakah kau rasakan perutmu begitu sakit bahkan teramat sakit?”
“Iya!” jawab Malaikat Maut.
“Apakah kerongkonganmu seperti seperti dicekik dan bibirmu pecah mengering?”
“Iya!”
“Apakah tubuhmu teramat sakit dan sungguh hari ini kau merasa hina?”
Malaikat Maut diam tak menjawab. Sementara aku malah tertawa senang, “Itulah namanya kemiskinan.”
Malaikat maut tambah melotot. Bahunya naik sangking marahnya. Seketika itu juga ia berteriak sangat keras membuatku ketakutan. Dan seketika itu juga ia telah berubah menjadi Malaikat Maut yang biasanya. Aku hendak mencari perlindungan pada gendut. Tapi sungguh aneh. Ia masih saja tertidur pulas.
“Kau katakan akan menjumpakan aku dengan serupa jahanam.” Wajah Malaikat Maut sekejap saja sudah ada di wajahku, “Kau tak tau apa-apa soal Jahanam!” Teriaknya menakutkan. Ia menjadi sangat menakutkan.
“Jahanam adalah penderitaan yang teramat sangat bahkan kau tak akan bisa membayangkannya. Jahanam akan meletakkan dua batu apinya di tengkukmu hingga melelehlah seluruh isi otak yang diikuti lelehan tulang dan isi perut dan itu adalah penderitaan terendah yang jahanam berikan.”
“Kau tau itu ha!” Malaikat Maut menarik dirinya dan kemudian bersikap seperti biasa. Aku terdiam sangat lama.
“Apakah aku akan menjumpa Jahanam?” tanyaku berbisik. Tapi jujur. Aku masih belum takut dengan kematian. Aku takut akan kemarahan Malaikat Maut.
Malaikat Maut malah tersenyum “Dengan kembaran seperti itu, kau pasti akan menjumpa Jahanam.”
“Kembaran apa maksudmu. Aku tak ada mirip-miripnya dengan si gendut yang kayak gentong itu!”
“Kemarikan wajah mu!” Malaikat Maut mengisaratkanku untuk mendekati tangannya. Kemudian ia mengusap wajahku. Aku merasakan sejuk dan kemudian hangat.
“Bukalah matamu!” Malaikat Maut meminta, “Dan tataplah kembaranmu itu,”
Aku membuka mata dan begitu terbelalak. Bersanding denganku makhuk yang sangat menyedihkan. Tubuhnya sangat kurus seperti anak kurang gizi. Ia tak memakai pakaian kecuali celana dalam yang sangat usang. Rambutnya panjang tak karuan dan wajahnya keriput menyedihkan. Aku mengatur nafasku yang memburu. Aku langsung menjauh tapi ia terus saja menatapku penuh makna. “Huh…huh…huh,” nafasku tersenggal. “Siapa. Siapa dia?” tanyaku pada Malaikat Maut.
“Dialah kembaran perbuatanmu. Dialah yang mencerminkan pribadimu. Dialah perwujutan tindakanmu selama hidup.”
“Aku tak mengenalnya. Dia bukan aku. Bukan!” aku merangkak mundur dan menyentuh wujud lain di ruangan itu. Aku melihat gendut yang telah kurus. Sedang tertidur pulas bersanding dengan gendut yang biasa ku kenal. Pakaian gendut yang kurus lengkap namun usang. Wajahnya pun terlihat tenang tak ada susah. Aku kembali mengatur nafas.
“Wajar jika kembaran kami seperti ini. Nasib tak berlaku adil pada kami. Tuhan meletakkan kami terasing dalam lembah dosa. Kami tiada pilihan lain untuk tidak berdosa karena kami telah menemui siksa-Nya.”
“Maksudmu kemiskinan!” Malaikat Maut diam sejenak, “Ikutlah denganku.” Seketika itu juga pintu terbuka dan ia berjalan keluar. Entah berjalan atau melayang. Aku mengikutinya. Tepatnya aku dan kembaranku yang masih menatap penuh makna. Sinaran pagi mulai tampak di kejauhan. Beriring sautan ayam yang semakin membuat perasaanku tak karuan. Tiba-tiba kulihat cahaya terang dari kejauhan. Dari salah satu rumah lain. Ah tidak! Beberap rumah kardus diareal ini. Cahaya itu bergerak keluar dan aku langsung memburunya. Tiba-tiba ku kulihat Junet dengan pakaiannya yang biasa namun lebih bersih keluar diikuti sesook cahaya yang begitu indah. Aku terbelalak. Ia berjalan menuju masjid. Lalu kulihat beberpa cahaya lain yang juga bergerak menuju masjid. Aku sangat ketakutan. Peluhku bercucuran. Aku sangat takut. Ketakutan yang membuat ludah yang ku telan serasa air es yang membekukan perut ini. Aku mulai pergi dan menjauhi Malaikat Maut. Aku berlari dan terus berlari. Mataku berair. Aku menangis. Namun seketika itu juga Malaikat Maut ada di hadapanku. Dan berkata, “Waktumu telah tiba.” Suaranya menggelegar memekakkan telingaku yang tak lagi bisa mendengar. Aku merasakan tubuhku disayat ratusan pedang. Tercabik-cabik seperti dimutilasi dalam keadaan sadar. Aku berteriak walaupun tak ku dengar sekeras apa jeritanku. Karena mungkin teriakanku pun telah tak bersuara. Aku merasakan sakit yang sejuta kali sakitnya kemiskinan. Dan ini baru kematian. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana rupa Jahanam.
Selengkapnya...