Malam itu Aku hanya bersembunyi di balik ketiak emak. Emakpun mendekapku erat. Terdengar olehku degup jantungnya yang kencang. Sekencang gemuruh malam itu. Bukan hujan atau badai yang datang. Akupun tak tau apa. Aku takut. Takut sekali.
Bapak menggenggam goloknya erat. Pintuku digedor berkali-kali. Terdengar gaduh diluar sana. Suaranya menderu seperti guntur yang beriring datang. Entah ada berapa orang di luar sana. Mungkin belasan. Entahlah.
Saat itu ku dengar bunyi gebrakan yang keras. Gebrakan itu disusul langkah-langkah berderap. Hentakan kakinya menyusul bertubi-tubi. Ku lihat bapak berdiri dan beranjak keluar. Ku pejamkan mata. Ku rasakan tetes air mata emak jatuh di pipi ini. Ia menangis tanpa terisak.
Dada ku berdegup kencang. Terdengar banyak sekali orang berteriak. Termasuk bapak. Aku sudah menutup telingaku tapi masih dapat ku dengar suara ricuh itu. Mungkin karena rumah kami yang sempit. Atau mungkin papan ini tak meredam semua. Bentakan semakin keras. Bukan bapak yang membentak. Lalu ku dengar teriakan. Teriakan kesakitan. Disusul teriakan wak Jon dan ramai sekali orang. Ya. Aku sangat hafal dengan suara serak dan berat itu.
Ku dengar banyak orang datang dan pergi. Emak menggendongku lalu beranjak ke luar. Emak menjatuhkan ku di samping pundak bapak yang terbaring merintih. Emak menangis berteriak-teriak. Aku menatap kosong. Bapak membelai rambutku. Rambutku basak, lengket. Samar ku lihat wak Jon memapah tubuh bapak. Perutnya meneteskan darah. Ya. Dalam remang masih kusadari itu. Kemudian beberapa orang membantu wak Jon. Bapak di bawa ke Puskesmas.
Aku terbangun pagi itu dalam dekapan emak. Tubuh ku terasa sakit dan pegal. Tapi pasti tak sesakit tubuh bapak. Ini adalah hari setelah dua minggu preman-preman itu menyiramkan tinta hitam pada lembaran sejarah keluargaku. Bapak bukanlah di ladang, bertanam, bukan! Bukan pula karena masih sakit dan menginap di Puskesmas karena luga bacoknya masih nyeri merayapi kulit. Lantas dimana bapak? Saat itu, tiga hari yang lalu, ku pertanyakan itu pada emak. Tatapan emak seketika nanar memandang teduh wajahku. “Bapak di penjara nduk” katanya lirih.
Bapak dan wak Jon melaporkan kejadian malam itu ke kepoloisan. Tiga hari setelah itu bukannya kawanan preman itu yang dibekuk dalam sel, eeeh malahan bapak yang digiring mobil pick up ke jeruji. Sirine yang meraung-raung memanggil warga untuk melihat tontonan gratis nan menarik. Banyak yang bingung waktu itu, seperti aku. Bapak pun bingung.
Pagi itu langit cerah. Angin berhembus perlahan menyapa pepohonan yang meliuk indah. Tiada tanda akan adanya bencana susulan pagi itu. Emak sedang memasak, sementara bapak mengasah parangnya. Ia bersiap menyiangi rumput di ladang. Petani memang tangguh, seperti bapakku. Luka gores itu tidaklah menghambat langkahnya meraup rizki di ladang. Suasana pagi yang damai itu pecah ketika sirine polisi membahana mengejar pekarangan rumahku. Aku dan kawan-kawan yang sedang main gundu bubar. Aku berlarian ke dalam mencari perlindungan. Sementara yang lain berbaris seperti pagar hidup yang terbuka mempersilahkan tamu tak diundang masuk. Aku langsung masuk ke dalam mencari emak. Tiga orang polisi turun membuntuti langkahku. Bapak segera keluar.
“Saudara Irwan?” Sapa polisi yang berbadan tegap dengan suara beratnya.
“ya saya pak.”
Polisi yang tegap itu mengisaratkan kedua rekannya membekuk bapak. Bapak meronta sejadinya.
“Ada apa pak? - kenapa ini – salah Saya apa Pak?”
“Saudara kami tahan atas tuduhan penghasutan, provokasi serta tindakan intimidasi.”
“Tapi pak – saya – saya.”
“Silahkan penjelasannya di kantor.” Polisi itu mengangguk pada kedua rekannya lalu pergi.
Aku terdiam saat itu. Apalah yang dimengerti anak usia tujuh tahun akan semua hal ini. Anak yang dibesarkan tanpa radio dan televise. Emak menangis memanggil-manggil bapak. Aku didekapnya erat. Tiada ku sadar, puluhan warga telah mengerumuni rumahku. Mereka seperti lebah kehilangan sengatnya. Diam tanpa sua.
Kejadian pagi itu semakin membuat kami sadar bahwa keadilan bukanlah milik kami. Keadilan bukanlah pemilik ladang yang miskin. Kenapa malam itu preman-preman datang kerumah. Kenapa? Itulah yang sering kutanyakan pada emak. Emak pun bercerita.
“Bapak mu itu dan petani yang lain ndak mau kalau ladang kita ditanami sawit nduk.”
“Memang siapa yang nanam sawit mak?” selaku seadanya.
“Orang-orang pabrik. Petani yang masuk kawasan sawit dipukuli dan dimarahi. Jadi kita ndak bisa lagi nyari ikan, kayu dan rotan di hutan. Ladang-ladang kita dirusak semua. Pohon-pohon pisang dirobohi, ubi-ubi dicabuti. Kalau ada petani meladang, diancam pukul.”
“Kenapa itu Mak? Kan ini tanah kita!”
“Tanah ini memang dari embah Tono. Embah juga ya dari uyut. Jadi sudah turun temurun. Tapi kita orang kampong nduk. Ndak ada bukti to kita yang punya ladang.
“Kan semua tau Mak! Kan udah ada patok.”
“Bukan itu aja nduk.” Emak membelai rambutku. Aku berbaring di pahanya.
“Bapak mu itu ngelawan. Tetep ditanami ladang sama bapak. Itu diikutin sama orang kampong. Karena itulah preman-preman itu datang.
“Trus kenapa bapak ditahan Mak?”
“Udah kamu tidur aja.” Emak mengakhiri ceritanya.
Pagi itu aku bangun dalam hening. Ya, hening. Tiada orang diladang. Tiada wanita mengayak beras. Semua diam dalam rumah tak tau mau apa. Sehari yang lalu terjadi keributan dasyat. Bapak yang digiring ke bui menyulut kemarahan warga. Wak Jon menggiring warga ke pabrik. Semua bawa celurit. Emak pun ikut. Semua teriak-teriak. Pohon sawit dirusak. Pagar pabrik didobrak. Tapi sebelum sampai mereka puas menyampaikan amarah, tiba-tiba sepasukan polisi datang. Warga dipukuli. Emak juga dipukuli polisi dengan pentungan. Warga langsung bubar berlarian tak jelas arah dan tujuan karena asap yang mengapul membuat mata mereka sakit.
Tak berhenti sampai situ saja penderitaan hari itu. Malamnya setiap rumah disantroni preman. Hingga dua belas orang datang meneror mereka yang melawan. Tak ayal lagi semua harus pasrah. Dan kasus bapat terulang. Wak Jon digiring mobil pick up dengan sirine nyaring. Petani-petani ini terusir dari tanah kelahirannya.
Inilah hari dimana kupertanyakan arti sebuah keadilan. Aku tak tau menau tapi dapat kurasakan pedih itu. Ku kemasi semua mainan yang kusayang. Karena hanya inilah harta benda yang kupunya. Apalagi yang kami punya di kampong ini. Tidak ada. Kemana kami harus mencari makan? Tidak tau. Tiada piliha lain, kami harus pergi untuk mencari rizki. Inilah hari dimana kumulai pengelanaan hidup. Pengelanaan hidup dalam strata terndah dalam strata kehidupan. Diman perkerjaan hilang dan harapan hidup melayang, senua dapat dilakukan. Bahkan tindakan tanpa akal dan iman. Kami menunggu bapak yang tak tau kapan pulang. Bahkan kabarnya telah dikirim ke bui dikampung sebrang. Entah di mana.
Aku lapar. Ku pertanyakan itu pada emak. Perutku melilit. Seperti ada penggilingn yang masuk melumat usus-usus di situ. Aku menggigil. Tiada kusandang selimut menutupi kulit. Tiada ku rasakan teduh didnding. Hamparan langit yang ku tatap hanya memberikan hamparan gelap. Tiada yang ku punya selain mainan yang kusayang. Aku memulai hidup. Hidup tanpa makan, tanpa sandang dean tanpa keadilan. Meja hijau memutuskan ku tuk berkelana dalam lembah dalam tuk terus merangkak jauh ke dalam. Kalau mau selamat dan tetap bertahan dengan sesuatu yang disebut, kehidupan
Cerita emak baru kusadari kini. Setelah emak pergi. Setelah bukanlah cangkul digenggaman ini tapi kelewang. Bukan lagi aalat buat menyiangi rumput yang ku punya tapi menyiangi kepala orang. Aku melanggar hukum? Ha! Hukum. Dimana hokum ketika bapak melapor malah ditahan. Dimanakah hokum ketika warga kami diusir dari ladangnya. Ladang yang sudah turun-temurun dari kakek buyut digarap. Itu dirampas, hilang sudah.
Salahkah kami? Salah! Karena kami tak tau menau tentang surat-surat ladang.Mana tau kami menanami ubi di hutan perlu surat. Mencangkuli ladang perlu surat. Mana kami tau! Pemimpin daerah kami saja tak mau tau. Apalagi orang-orang pandai yang mengerti hukum peduli pada kami.
Pagi itu kami memulai cerita baru. Tidak semua. Tapi sebagian yang tak mau jadi kuli seorang pencuri. Maka kami alih profesi jadi pencuri. Telah kusantroni Sekawasan elit rumah-rumah mentereng di areal pabrik. Tak sering kami ambil sebagian sawit yang hendak keluar dari kawasan kampung kami. Ya. Dulunya kampung kami.
Jangan salahkan kami yang tak mengenal hukum kini. Jangan salahkan kami yang bertindak semau hati. Karena hukum bukanlah milik kami. Hukum adalah milik pemegang uang dan penguasa tak berhati nurani.
Dada ku berdegup kencang. Terdengar banyak sekali orang berteriak. Termasuk bapak. Aku sudah menutup telingaku tapi masih dapat ku dengar suara ricuh itu. Mungkin karena rumah kami yang sempit. Atau mungkin papan ini tak meredam semua. Bentakan semakin keras. Bukan bapak yang membentak. Lalu ku dengar teriakan. Teriakan kesakitan. Disusul teriakan wak Jon dan ramai sekali orang. Ya. Aku sangat hafal dengan suara serak dan berat itu.
Ku dengar banyak orang datang dan pergi. Emak menggendongku lalu beranjak ke luar. Emak menjatuhkan ku di samping pundak bapak yang terbaring merintih. Emak menangis berteriak-teriak. Aku menatap kosong. Bapak membelai rambutku. Rambutku basak, lengket. Samar ku lihat wak Jon memapah tubuh bapak. Perutnya meneteskan darah. Ya. Dalam remang masih kusadari itu. Kemudian beberapa orang membantu wak Jon. Bapak di bawa ke Puskesmas.
Aku terbangun pagi itu dalam dekapan emak. Tubuh ku terasa sakit dan pegal. Tapi pasti tak sesakit tubuh bapak. Ini adalah hari setelah dua minggu preman-preman itu menyiramkan tinta hitam pada lembaran sejarah keluargaku. Bapak bukanlah di ladang, bertanam, bukan! Bukan pula karena masih sakit dan menginap di Puskesmas karena luga bacoknya masih nyeri merayapi kulit. Lantas dimana bapak? Saat itu, tiga hari yang lalu, ku pertanyakan itu pada emak. Tatapan emak seketika nanar memandang teduh wajahku. “Bapak di penjara nduk” katanya lirih.
Bapak dan wak Jon melaporkan kejadian malam itu ke kepoloisan. Tiga hari setelah itu bukannya kawanan preman itu yang dibekuk dalam sel, eeeh malahan bapak yang digiring mobil pick up ke jeruji. Sirine yang meraung-raung memanggil warga untuk melihat tontonan gratis nan menarik. Banyak yang bingung waktu itu, seperti aku. Bapak pun bingung.
Pagi itu langit cerah. Angin berhembus perlahan menyapa pepohonan yang meliuk indah. Tiada tanda akan adanya bencana susulan pagi itu. Emak sedang memasak, sementara bapak mengasah parangnya. Ia bersiap menyiangi rumput di ladang. Petani memang tangguh, seperti bapakku. Luka gores itu tidaklah menghambat langkahnya meraup rizki di ladang. Suasana pagi yang damai itu pecah ketika sirine polisi membahana mengejar pekarangan rumahku. Aku dan kawan-kawan yang sedang main gundu bubar. Aku berlarian ke dalam mencari perlindungan. Sementara yang lain berbaris seperti pagar hidup yang terbuka mempersilahkan tamu tak diundang masuk. Aku langsung masuk ke dalam mencari emak. Tiga orang polisi turun membuntuti langkahku. Bapak segera keluar.
“Saudara Irwan?” Sapa polisi yang berbadan tegap dengan suara beratnya.
“ya saya pak.”
Polisi yang tegap itu mengisaratkan kedua rekannya membekuk bapak. Bapak meronta sejadinya.
“Ada apa pak? - kenapa ini – salah Saya apa Pak?”
“Saudara kami tahan atas tuduhan penghasutan, provokasi serta tindakan intimidasi.”
“Tapi pak – saya – saya.”
“Silahkan penjelasannya di kantor.” Polisi itu mengangguk pada kedua rekannya lalu pergi.
Aku terdiam saat itu. Apalah yang dimengerti anak usia tujuh tahun akan semua hal ini. Anak yang dibesarkan tanpa radio dan televise. Emak menangis memanggil-manggil bapak. Aku didekapnya erat. Tiada ku sadar, puluhan warga telah mengerumuni rumahku. Mereka seperti lebah kehilangan sengatnya. Diam tanpa sua.
Kejadian pagi itu semakin membuat kami sadar bahwa keadilan bukanlah milik kami. Keadilan bukanlah pemilik ladang yang miskin. Kenapa malam itu preman-preman datang kerumah. Kenapa? Itulah yang sering kutanyakan pada emak. Emak pun bercerita.
“Bapak mu itu dan petani yang lain ndak mau kalau ladang kita ditanami sawit nduk.”
“Memang siapa yang nanam sawit mak?” selaku seadanya.
“Orang-orang pabrik. Petani yang masuk kawasan sawit dipukuli dan dimarahi. Jadi kita ndak bisa lagi nyari ikan, kayu dan rotan di hutan. Ladang-ladang kita dirusak semua. Pohon-pohon pisang dirobohi, ubi-ubi dicabuti. Kalau ada petani meladang, diancam pukul.”
“Kenapa itu Mak? Kan ini tanah kita!”
“Tanah ini memang dari embah Tono. Embah juga ya dari uyut. Jadi sudah turun temurun. Tapi kita orang kampong nduk. Ndak ada bukti to kita yang punya ladang.
“Kan semua tau Mak! Kan udah ada patok.”
“Bukan itu aja nduk.” Emak membelai rambutku. Aku berbaring di pahanya.
“Bapak mu itu ngelawan. Tetep ditanami ladang sama bapak. Itu diikutin sama orang kampong. Karena itulah preman-preman itu datang.
“Trus kenapa bapak ditahan Mak?”
“Udah kamu tidur aja.” Emak mengakhiri ceritanya.
Pagi itu aku bangun dalam hening. Ya, hening. Tiada orang diladang. Tiada wanita mengayak beras. Semua diam dalam rumah tak tau mau apa. Sehari yang lalu terjadi keributan dasyat. Bapak yang digiring ke bui menyulut kemarahan warga. Wak Jon menggiring warga ke pabrik. Semua bawa celurit. Emak pun ikut. Semua teriak-teriak. Pohon sawit dirusak. Pagar pabrik didobrak. Tapi sebelum sampai mereka puas menyampaikan amarah, tiba-tiba sepasukan polisi datang. Warga dipukuli. Emak juga dipukuli polisi dengan pentungan. Warga langsung bubar berlarian tak jelas arah dan tujuan karena asap yang mengapul membuat mata mereka sakit.
Tak berhenti sampai situ saja penderitaan hari itu. Malamnya setiap rumah disantroni preman. Hingga dua belas orang datang meneror mereka yang melawan. Tak ayal lagi semua harus pasrah. Dan kasus bapat terulang. Wak Jon digiring mobil pick up dengan sirine nyaring. Petani-petani ini terusir dari tanah kelahirannya.
Inilah hari dimana kupertanyakan arti sebuah keadilan. Aku tak tau menau tapi dapat kurasakan pedih itu. Ku kemasi semua mainan yang kusayang. Karena hanya inilah harta benda yang kupunya. Apalagi yang kami punya di kampong ini. Tidak ada. Kemana kami harus mencari makan? Tidak tau. Tiada piliha lain, kami harus pergi untuk mencari rizki. Inilah hari dimana kumulai pengelanaan hidup. Pengelanaan hidup dalam strata terndah dalam strata kehidupan. Diman perkerjaan hilang dan harapan hidup melayang, senua dapat dilakukan. Bahkan tindakan tanpa akal dan iman. Kami menunggu bapak yang tak tau kapan pulang. Bahkan kabarnya telah dikirim ke bui dikampung sebrang. Entah di mana.
Aku lapar. Ku pertanyakan itu pada emak. Perutku melilit. Seperti ada penggilingn yang masuk melumat usus-usus di situ. Aku menggigil. Tiada kusandang selimut menutupi kulit. Tiada ku rasakan teduh didnding. Hamparan langit yang ku tatap hanya memberikan hamparan gelap. Tiada yang ku punya selain mainan yang kusayang. Aku memulai hidup. Hidup tanpa makan, tanpa sandang dean tanpa keadilan. Meja hijau memutuskan ku tuk berkelana dalam lembah dalam tuk terus merangkak jauh ke dalam. Kalau mau selamat dan tetap bertahan dengan sesuatu yang disebut, kehidupan
Cerita emak baru kusadari kini. Setelah emak pergi. Setelah bukanlah cangkul digenggaman ini tapi kelewang. Bukan lagi aalat buat menyiangi rumput yang ku punya tapi menyiangi kepala orang. Aku melanggar hukum? Ha! Hukum. Dimana hokum ketika bapak melapor malah ditahan. Dimanakah hokum ketika warga kami diusir dari ladangnya. Ladang yang sudah turun-temurun dari kakek buyut digarap. Itu dirampas, hilang sudah.
Salahkah kami? Salah! Karena kami tak tau menau tentang surat-surat ladang.Mana tau kami menanami ubi di hutan perlu surat. Mencangkuli ladang perlu surat. Mana kami tau! Pemimpin daerah kami saja tak mau tau. Apalagi orang-orang pandai yang mengerti hukum peduli pada kami.
Pagi itu kami memulai cerita baru. Tidak semua. Tapi sebagian yang tak mau jadi kuli seorang pencuri. Maka kami alih profesi jadi pencuri. Telah kusantroni Sekawasan elit rumah-rumah mentereng di areal pabrik. Tak sering kami ambil sebagian sawit yang hendak keluar dari kawasan kampung kami. Ya. Dulunya kampung kami.
Jangan salahkan kami yang tak mengenal hukum kini. Jangan salahkan kami yang bertindak semau hati. Karena hukum bukanlah milik kami. Hukum adalah milik pemegang uang dan penguasa tak berhati nurani.
0 komentar:
Poskan Komentar