Aku menjumpanya dalam hayal. Menyentuhnya dengan impian. Mendekapnya dengan kehangatan cinta, hati yang merindu.
Empat belas hari ini aku selalu bersamanya. Setiap saat, setiap waktu selalu bersama. Bagaimana mengatakannya. Mungkin seharusnya kukatakan “Dialah yang selalu bersamaku.”
Sore ini sinaran mentari teduh menjatuhi hijauan rumput jepang yang berbaris teratur dalam porsinya. Aku dan dia pagi ini berjumpa di taman bunga. Bergandengan tangan, melalui ruang dan orang-orang yang terdiam. Aku bertanya padanya “Dinda kekasihku, pujaanku, bidadari abadiku, kemanakah engkau akan membawaku melangkah?”
Ia tertunduk manis. Kulit putihnya memantulkan sinaran mentari. Entahlah, mungkin ia pun telah bercahaya. Bibirnya mulai bergetar, tipis, basah dan indah. Ia mulai bersua “Sayangku yang ku puja setiap hela nafasku berada. Aku ingin membawamu pada kasih cinta yang maha cinta. Namun sebelumnya, Aku ingin terlebih dahulu membawamu pada cerita lama. Ketika kau tau kau mencinta. Dan ketika ku tau hatiku pun berbunga.”
“Saat melihatmu aku sudah mencinta. Saat ku menyapamu ku semakin cinta. Ketika kau tatap aku hatiku bergelora. Saat ku tamu hatimu ku telah menjadi serpihan debu cahaya yang ingin menyelinapi relung-relung jiwamu.”
“Teringatkah akan ayahku, Wahai kekasihku?”
Aku terdiam sejenak. “Ia sayang. Sebuah kenangan yang kelabu.” Aku terdiam.
Hari itu, setahun yang lalu, aku dengan semangat membara berlari ke tepian kota. Melalui pasar yang becek denan tawa. Antrian manusia disana ku terobos dengan senyuman. Ku singgahi toko bunga dan memesan sekuntum mawar merah, wangi dan merekah. Gedung-gedung tinggi ini mungkin menyangka aku gila. Bila aspal hitam ini memiliki bibir pun, ia mungkin telah tertawa.
“Untuk pacar kembangnya nak?” Sapa pemilik toko yang keluar dari dalam himpitan bunga aneka warna dengan mawar merah yang dilapis plastik digenggamannya.
“Ia Bu! Aku suka padanya. Tapi Aku belum tau apa dia suka padaku juga atau tidak.”
Pemilik toko itu tersenyum. Di balik gurat keriput masih tampak jelas kecantikan mudanya. Senyumnya memberi pesona kehangatan. Seperti seorang ibu yang menatap sayang anaknya yang tertidur pulas.
“Pasti pacar anak ganteng ini cantik ya?” Tanyanya sambil menyerahkan mawar.
“Luar biasa kecantikannya Bu. Matanya begitu indah. Alisnya tebal mempertajam keindahan matanya. Hidungnya mancung, bibirnya basah dan selalu tersenyum. Wajah ovalnya begitu bersih, putih dan bercahaya. Tubuhnya begitu indah. Jika ia berjalan, rambutnya akan bergoyang. Bahkan angin sering menggoda keindahan rambutnya yang tergerai. Menghembusnya kesana kemari memberi pesona yang sunggug luar biasa.”
Anak ini betul-betul kasmaran rupanya. Siapa nama anak?”
“Bayu.”
“Mawar ini gratis buat Bayu, anak ibu yang lagi kasmaran.”
“Wah! Makasih Bu.”
“Sudah gih cepet berangkat. Nanti kesorean. Keburu gelap.”
“Makasih Bu. Permisi.” Aku berlari semakin kencang seakan cintaku telah direstui dunia.
Keramaian berangsur berkurang. Berganti deretan becak dan sepeda yang lalu lalang. Sesekali sebuah kendaraan bermotor lewat. Berisik sekali. Membuat pejalan kaki melirik sesaat karena bunyi knalpot adalah sesuatu yang asing di sini. Aku terus berlari. Semua yang ku lalui terlihat tersenyum dan bernyanyi seperti hati ini. Gedung-gedung telah menghilang. Berganti deretan rumah dengan pekarangan yang luas. Aku memisahkan diri dari hitamnya aspal. Beralih ke petak-petak segi lima yang tersusun rapat. Apabila dipijak, akan terasa ia sedikit bergoyang. Aku berhenti sejenak. Sebuah gapura menghadang langkah. Dada ku bergetar. Sebuah ukiran dari jepara terpampang disana ‘VILLA CITRA PERMAI’. Aku perlahan melangkah. Deretan pepohonan di sisi jalan memberikan rasa sunyi. Dada ku semakin bergetar. Rumah-rumah besar kulalui. Sangat besar dan sangat luas. Terngiang olehku suara lembut yang indah “Rumahku di villa citra permai, D2. Datang ya!” Kata-kata yang menggetarkan tubuh ini. Ratusan semut seketika menggerumuni tubuh ketika mendengar kata-kata itu. Sudah sekian lama aku mengejarnya. Ia selalu diam tanpa sua. Hingga kemarin, ia datang ke ruangan dan menghampiriku. Oh tuhan, engkaulah pencipta rasa. Debar ini, gelora ini, gemuruh didasar kalbu yang meraung-raung ingin berontak keluar. Hari ini akan ku sampaikan inginnya.
D2 dihadapanku. Sebuah pagar terbuka lebar. Aku terbelalak. Degup jantungku semakin kencang. Seakan secangkir teh panas telah masuki kerongkongan ini. Terus mengalir ke seluruh rongga dada hingga terbakarlah seluruh organ di sana. Apakah kedatanganku telah dinanti? Aku terus melangkah melalui taman bunga yang berisi tulip, anggrek, dan bunga-bunga kuning yang tak ku tau jenis apa.
Ku ketuk sebuah pintu jati berukuran sedang dengan ukiran arab yang indah berhias kuningan. Langkah berderap terdengar memburuku. Dada ini semakin bergemuruh. Seorang pria membuka pintu. Wajahnya teduh, tubuhnya tegap dan tatapannya tajam. “Cari siapa Adek ini?” katanya.
“Maaf Pak. Ananya ada?”
“Ada perlu apa ya?” ia maju selangkah. Tampak jelas sekarang bahunya yang lebar. Sepertinya ia mantan tentara.
“Saya diundangnya datang.”
“Tunggu sebentar kalau begitu. Saya panggilkan dulu. Silahkan duduk.” Tangan kanannya mengisyaratkan sebuah kursi jati di sisi kiri teras. Aku mengangguk.
Tak lama kemudian pintu berdecit terbuka. Aku seketika berdiri. Sesosok bidadari keluar membawa segelas air berwarna kuning. Aku terpesona. Wahai dunia, semua keindahanmu ada padanya.
“Makasih sudah mau datang.” Ia menghampiriku. Menaruh air dimeja lalu menjukurkan tangan kanannya “ Saya Ana. Safana khoirunnisa.”
Aku menggapai tangannya. Tersengat listrik kebahagiaan tubuh ini. Bibirku bergetar “Bayu. Fidhi Bayu Dinindra.”
Ia tersenyum. Oh Tuhan jagalah hatiku agar tak melebur.
“Silahkan duduk mas Bayu.”
“Makasih.”
“Boleh tau kenapa datang?” Ia tersipu. Ia berkata sambil menunduk. Senja semakin menampakkan rona merah di pipi indah itu.
“Janganlah menggoda. Senja yang indah pasti telah tau ia dinanti malam. Bukan tuk tiada tapi bersemayam. Karena malam kan berikan tempat bagi cahaya senja dalam keindahan purnama.”
“Dan Aku adalah senja?”
“Bukan. Tapi cahaya yang dinanti malam tuk purnama.”
Ia tersenyum.
“Ana. Aku tidaklah berdusta jika ku katakana bahwa Analah ciptaan Tuhan yang maha indah. Lebih indah dari pagi. Lebih indah dari samudra. Lebih indah dari isi dunia. Suara Ana adalah hembusan sejuk yang mendekap diri ini. Tak kuasa aku menahan lagi.”
Ana menatapku. Tatapan tajam. “Aku pun sejujurnya tak tau yang kurasakan ini apa.” Ana menarik nafas. Kemudian menatap kosong hijauan taman “Malam-malam ku isi dengan gelisah. Tiada amarah tapi gemuruh terus mewabah. Hati ini seakan mau pecah. Selalu ku tahan tapi ku tak kuasa.” Ana berpaling menatapku.
“Safana. Aku bersumpah atas nama senja. Aku mencintamu dengan setulus jiwa. Aku ingin menjadikanmu ratu di singgasana kehidupanku. Temani Aku melalui waktu hingga usia akhiri kehidupan ini.”
“Sejujurnya Aku tak kuasa menolak. Aku begitu ingin. Sungguh! Aku sungguh ingin menjadikanmu raja diri ini. Tapi aku takut membagi cintaku pada ayahku terlalu besar padamu. Karena ayahku hanya memiliki cintaku.Kecuali dirimu membagi cinta pada ayahku.”
Tatapan Ana memohon padaku. Aku berdiri “Demi Tuhan Yesus yang maha kasih. Aku akan membagi kasih pada ayahmu.”
Tiba-tiba pintu terbanting membuka. Sesosok pria tinggi besar keluar. Wajah teduh tadi hilang menjadi menakutkan. Ia berteriak “Pergi Kau dari rumah ini. PERGI!”
Aku terdiam membeku. Seember air es telah mengguyur tubuh ini hingga tiada daya tulang-tulang melemah. Kaki, tangan ini bergetar. Entah apa yang didengarnya. Ana menangis memohon pada ayahnya. Ia menatap iba padaku.
“Keluar Kau Ku bilang!”
“Tapi-tapi Pak.Saya-saya salah-apa?
“Keluar jahannam!”
Aku menarik langkah dan pergi. Seisi jiwaku menangis. Ku perhatikan Ana yang bersimpuh dilantai. Aku berpaling pulang.
Dua bulan aku tidak pernah menemui Ana. Tubuhku telah kurus tinggal tulang berbalut kulit. Beberapa kali ku datang kerumahnya tapi hanya pagar yang menyapa. Sore itu tukang pos datang membawa sepucuk surat beramplop putih. Ibuku yang membawa suratnya padaku. Ku buka amplop putih itu. Dua lembar surat berdiam disana. Selembar berwarna pink dan selembar lagi putih biasa. Aku sangat berharap. Sungguh berharap dari dia. Aku terlebih dahulu mengambil yang berwarna pink. Seketika hati bergelora membuka lipatan kertas itu
Kepada manusia yang Ku puja dengan cinta manusia. Sungguh ku tak kuasa menahan cinta. Hatiku lebur seperti tubuh ini. Maka kuserahkan cinta pada maha cinta pemilik kesempurnaan cinta. Ku serahkan diri ini pada-Nya jika Ia pinta. Dan jika surat ini sampai, maka Ia telah meminta milik-Nya. Aku sungguh lemah dan kuharap kau yang ku puja tak lemah. Karena cinta sesungguhnya adalah keabadian cinta dari maha cinta.
Aku jatuh seketika menangisi nasib. Aku membuka kertas kedua. Tulisannya sedikit kasar, berbeda dengan yang sebelumnya. Tertulis sebuah kalimat ‘Jl Ahmad Yani gang Palapa blok 7’
****
“Sayang. Kenapa diam?” Ana mengagetkanku.
“Maaf sayang. Aku hanya berfikir.”
“Ia teramat cinta padaku. Hingga tak mau aku ditolak maha cinta di kerajaannya.” Ana tersipu lalu kembali menatapku “Temani aku melalui senja ya. Dan teruslah utarakan syair cinta.”
Aku bersyair kepadanya melalui blok 7, blok 6, blok 5 pemakaman Ahmad Yani gang Palapa.
“Saat melihatmu aku sudah mencinta. Saat ku menyapamu ku semakin cinta. Ketika kau tatap aku hatiku bergelora. Saat ku tamu hatimu ku telah menjadi serpihan debu cahaya yang ingin menyelinapi relung-relung jiwamu.”
“Teringatkah akan ayahku, Wahai kekasihku?”
Aku terdiam sejenak. “Ia sayang. Sebuah kenangan yang kelabu.” Aku terdiam.
Hari itu, setahun yang lalu, aku dengan semangat membara berlari ke tepian kota. Melalui pasar yang becek denan tawa. Antrian manusia disana ku terobos dengan senyuman. Ku singgahi toko bunga dan memesan sekuntum mawar merah, wangi dan merekah. Gedung-gedung tinggi ini mungkin menyangka aku gila. Bila aspal hitam ini memiliki bibir pun, ia mungkin telah tertawa.
“Untuk pacar kembangnya nak?” Sapa pemilik toko yang keluar dari dalam himpitan bunga aneka warna dengan mawar merah yang dilapis plastik digenggamannya.
“Ia Bu! Aku suka padanya. Tapi Aku belum tau apa dia suka padaku juga atau tidak.”
Pemilik toko itu tersenyum. Di balik gurat keriput masih tampak jelas kecantikan mudanya. Senyumnya memberi pesona kehangatan. Seperti seorang ibu yang menatap sayang anaknya yang tertidur pulas.
“Pasti pacar anak ganteng ini cantik ya?” Tanyanya sambil menyerahkan mawar.
“Luar biasa kecantikannya Bu. Matanya begitu indah. Alisnya tebal mempertajam keindahan matanya. Hidungnya mancung, bibirnya basah dan selalu tersenyum. Wajah ovalnya begitu bersih, putih dan bercahaya. Tubuhnya begitu indah. Jika ia berjalan, rambutnya akan bergoyang. Bahkan angin sering menggoda keindahan rambutnya yang tergerai. Menghembusnya kesana kemari memberi pesona yang sunggug luar biasa.”
Anak ini betul-betul kasmaran rupanya. Siapa nama anak?”
“Bayu.”
“Mawar ini gratis buat Bayu, anak ibu yang lagi kasmaran.”
“Wah! Makasih Bu.”
“Sudah gih cepet berangkat. Nanti kesorean. Keburu gelap.”
“Makasih Bu. Permisi.” Aku berlari semakin kencang seakan cintaku telah direstui dunia.
Keramaian berangsur berkurang. Berganti deretan becak dan sepeda yang lalu lalang. Sesekali sebuah kendaraan bermotor lewat. Berisik sekali. Membuat pejalan kaki melirik sesaat karena bunyi knalpot adalah sesuatu yang asing di sini. Aku terus berlari. Semua yang ku lalui terlihat tersenyum dan bernyanyi seperti hati ini. Gedung-gedung telah menghilang. Berganti deretan rumah dengan pekarangan yang luas. Aku memisahkan diri dari hitamnya aspal. Beralih ke petak-petak segi lima yang tersusun rapat. Apabila dipijak, akan terasa ia sedikit bergoyang. Aku berhenti sejenak. Sebuah gapura menghadang langkah. Dada ku bergetar. Sebuah ukiran dari jepara terpampang disana ‘VILLA CITRA PERMAI’. Aku perlahan melangkah. Deretan pepohonan di sisi jalan memberikan rasa sunyi. Dada ku semakin bergetar. Rumah-rumah besar kulalui. Sangat besar dan sangat luas. Terngiang olehku suara lembut yang indah “Rumahku di villa citra permai, D2. Datang ya!” Kata-kata yang menggetarkan tubuh ini. Ratusan semut seketika menggerumuni tubuh ketika mendengar kata-kata itu. Sudah sekian lama aku mengejarnya. Ia selalu diam tanpa sua. Hingga kemarin, ia datang ke ruangan dan menghampiriku. Oh tuhan, engkaulah pencipta rasa. Debar ini, gelora ini, gemuruh didasar kalbu yang meraung-raung ingin berontak keluar. Hari ini akan ku sampaikan inginnya.
D2 dihadapanku. Sebuah pagar terbuka lebar. Aku terbelalak. Degup jantungku semakin kencang. Seakan secangkir teh panas telah masuki kerongkongan ini. Terus mengalir ke seluruh rongga dada hingga terbakarlah seluruh organ di sana. Apakah kedatanganku telah dinanti? Aku terus melangkah melalui taman bunga yang berisi tulip, anggrek, dan bunga-bunga kuning yang tak ku tau jenis apa.
Ku ketuk sebuah pintu jati berukuran sedang dengan ukiran arab yang indah berhias kuningan. Langkah berderap terdengar memburuku. Dada ini semakin bergemuruh. Seorang pria membuka pintu. Wajahnya teduh, tubuhnya tegap dan tatapannya tajam. “Cari siapa Adek ini?” katanya.
“Maaf Pak. Ananya ada?”
“Ada perlu apa ya?” ia maju selangkah. Tampak jelas sekarang bahunya yang lebar. Sepertinya ia mantan tentara.
“Saya diundangnya datang.”
“Tunggu sebentar kalau begitu. Saya panggilkan dulu. Silahkan duduk.” Tangan kanannya mengisyaratkan sebuah kursi jati di sisi kiri teras. Aku mengangguk.
Tak lama kemudian pintu berdecit terbuka. Aku seketika berdiri. Sesosok bidadari keluar membawa segelas air berwarna kuning. Aku terpesona. Wahai dunia, semua keindahanmu ada padanya.
“Makasih sudah mau datang.” Ia menghampiriku. Menaruh air dimeja lalu menjukurkan tangan kanannya “ Saya Ana. Safana khoirunnisa.”
Aku menggapai tangannya. Tersengat listrik kebahagiaan tubuh ini. Bibirku bergetar “Bayu. Fidhi Bayu Dinindra.”
Ia tersenyum. Oh Tuhan jagalah hatiku agar tak melebur.
“Silahkan duduk mas Bayu.”
“Makasih.”
“Boleh tau kenapa datang?” Ia tersipu. Ia berkata sambil menunduk. Senja semakin menampakkan rona merah di pipi indah itu.
“Janganlah menggoda. Senja yang indah pasti telah tau ia dinanti malam. Bukan tuk tiada tapi bersemayam. Karena malam kan berikan tempat bagi cahaya senja dalam keindahan purnama.”
“Dan Aku adalah senja?”
“Bukan. Tapi cahaya yang dinanti malam tuk purnama.”
Ia tersenyum.
“Ana. Aku tidaklah berdusta jika ku katakana bahwa Analah ciptaan Tuhan yang maha indah. Lebih indah dari pagi. Lebih indah dari samudra. Lebih indah dari isi dunia. Suara Ana adalah hembusan sejuk yang mendekap diri ini. Tak kuasa aku menahan lagi.”
Ana menatapku. Tatapan tajam. “Aku pun sejujurnya tak tau yang kurasakan ini apa.” Ana menarik nafas. Kemudian menatap kosong hijauan taman “Malam-malam ku isi dengan gelisah. Tiada amarah tapi gemuruh terus mewabah. Hati ini seakan mau pecah. Selalu ku tahan tapi ku tak kuasa.” Ana berpaling menatapku.
“Safana. Aku bersumpah atas nama senja. Aku mencintamu dengan setulus jiwa. Aku ingin menjadikanmu ratu di singgasana kehidupanku. Temani Aku melalui waktu hingga usia akhiri kehidupan ini.”
“Sejujurnya Aku tak kuasa menolak. Aku begitu ingin. Sungguh! Aku sungguh ingin menjadikanmu raja diri ini. Tapi aku takut membagi cintaku pada ayahku terlalu besar padamu. Karena ayahku hanya memiliki cintaku.Kecuali dirimu membagi cinta pada ayahku.”
Tatapan Ana memohon padaku. Aku berdiri “Demi Tuhan Yesus yang maha kasih. Aku akan membagi kasih pada ayahmu.”
Tiba-tiba pintu terbanting membuka. Sesosok pria tinggi besar keluar. Wajah teduh tadi hilang menjadi menakutkan. Ia berteriak “Pergi Kau dari rumah ini. PERGI!”
Aku terdiam membeku. Seember air es telah mengguyur tubuh ini hingga tiada daya tulang-tulang melemah. Kaki, tangan ini bergetar. Entah apa yang didengarnya. Ana menangis memohon pada ayahnya. Ia menatap iba padaku.
“Keluar Kau Ku bilang!”
“Tapi-tapi Pak.Saya-saya salah-apa?
“Keluar jahannam!”
Aku menarik langkah dan pergi. Seisi jiwaku menangis. Ku perhatikan Ana yang bersimpuh dilantai. Aku berpaling pulang.
Dua bulan aku tidak pernah menemui Ana. Tubuhku telah kurus tinggal tulang berbalut kulit. Beberapa kali ku datang kerumahnya tapi hanya pagar yang menyapa. Sore itu tukang pos datang membawa sepucuk surat beramplop putih. Ibuku yang membawa suratnya padaku. Ku buka amplop putih itu. Dua lembar surat berdiam disana. Selembar berwarna pink dan selembar lagi putih biasa. Aku sangat berharap. Sungguh berharap dari dia. Aku terlebih dahulu mengambil yang berwarna pink. Seketika hati bergelora membuka lipatan kertas itu
Kepada manusia yang Ku puja dengan cinta manusia. Sungguh ku tak kuasa menahan cinta. Hatiku lebur seperti tubuh ini. Maka kuserahkan cinta pada maha cinta pemilik kesempurnaan cinta. Ku serahkan diri ini pada-Nya jika Ia pinta. Dan jika surat ini sampai, maka Ia telah meminta milik-Nya. Aku sungguh lemah dan kuharap kau yang ku puja tak lemah. Karena cinta sesungguhnya adalah keabadian cinta dari maha cinta.
Aku jatuh seketika menangisi nasib. Aku membuka kertas kedua. Tulisannya sedikit kasar, berbeda dengan yang sebelumnya. Tertulis sebuah kalimat ‘Jl Ahmad Yani gang Palapa blok 7’
****
“Sayang. Kenapa diam?” Ana mengagetkanku.
“Maaf sayang. Aku hanya berfikir.”
“Ia teramat cinta padaku. Hingga tak mau aku ditolak maha cinta di kerajaannya.” Ana tersipu lalu kembali menatapku “Temani aku melalui senja ya. Dan teruslah utarakan syair cinta.”
Aku bersyair kepadanya melalui blok 7, blok 6, blok 5 pemakaman Ahmad Yani gang Palapa.
0 komentar:
Poskan Komentar