Senin, 24 Oktober 2011

Stasiun Penantian

Malam menyisakan dingin di penghujung usianya. mengusir manusia dengan hembusan dari bibir-bibir kesunyian. Membuat semua larut dalam damai di peraduan nyaman ranjang dengan mimpi-mimpi yang teranyam. meninggalkan tempat ini. Terusir oleh gelap dan menyingkir setiba tahu tujuannya. Menyisakan aku, dan makhluk-makhluk kecil ini. Di kursi panjang kami berbagi tempat. untuknya hidup, bagiku mencari hidup. Dari sinilah, awal keberangkatan.

Kursi panjang ini bercelah. Dari celahnya berlarian hewan pengerat kecil berkejaran. Tanpa aku tahu sedang apa mereka dan mengapa mereka hadir saat sunyi melingkupi. Aku sediakan punggungku di kursi ini untuk areanya berlari. Sedikit menggelitik menemani sepi. Hingga nanti tiba songsongan pagi. Membuat mereka menjadi lebih kecil dan tak tampak lagi. Aku akan merindukan mereka. Sampai tiba malam lagi. Jika aku belum juga pergi.

Aku tersentak dan buyarlah sudah tanah hijau yang tadi ku pijak ketika mata mengatup rapat. Seorang wanita tengah duduk dikursiku. Membawa begitu banyak bungkusan dan membantingnya di sisi wajah ini. Jatuh pula di situ tiket keberangkatannya. Matanya memandang liar keramaian. Kakinya di hentak-hentakkan. Mungkin ia mantan atlit maraton yang sudah lupa bahwa sekarang bukanlah saatnya start untuk kejuaraan. Sejurus kemudian ia menatap wajahku. Aku menatapnya tajam bertanya dalam isyarat saja ‘sedang apa gerangan engkau wahai wanita’. Sangat ketus ia menjawab isyaratku dengan bibir mungil yang sejak tadi mencumbu balon-balon permen karet dari lubang kecil itu, “Bangun la. Sempit ni”. Aku jawab perintahnya dengan kembali merajut lebaran-lembaran yang tadi terbuang. Mempersiapkan tempat yang ingin ku datangi. Menatapnya hingga aku rasakan cukuplah sudah. Maka ku datangi kesemuan itu. Kembali ku merebah. Menunggu dalam lelap.

Aku telah duduk kini. Mentari menghadirkan ribuan orang memadati tempat ini. Aku bosan terus di sini. Mimpi-mimpiku tak pernah merevisi suatu tempat yang ingin ku datangi. Maka ‘ku cari tempat itu di wajah-wajah gelisah orang-orang yang antri giliran membeli tiket di jurusan di hadapanku. Mereka begitu takut tidak dapat tiket sehingga mau saja berdesakan di sana bercampur keringat. Bahkan sejak aku terbangun tadi, atau mungkin jauh sebelum itu mereka sudah ada di barisan itu. Wajah-wajah mereka sungguh gelisah. Hanya di jurusan itu yang antriannya sangat panjang. Seakan calon penumpangnya sangat ketakutan tidak dapat bagian di dalam. Dan harus menunggu di luar untuk suatu keberangkatan yang mungkin tidak akan memberangkatkan dirinya. Dan antrian itu yang paling ramai. Semua yang mengantri disana adalah wanita. Sungguh mengherankan. Dan sebagian besar dari mereka tidak sendirian.

Seorang dari mereka berjalan ke arahku atau mungkin aku yang mengira begitu. Di tangannya sudah ada lembaran tiket. Wajahnya sungguh rupawan. Rambutnya terurai sepinggang. Tubuhnya langsing terjaga. Ia tersenyum padaku. Aku menoleh kebelakang dan aku yakin tidak ada yang memandangnya atau membalas senyuman. Walaupun di sana tengah lalu lalang puluhan orang. Ia langsung duduk ketika sampai di kursiku. Matanya menggoda. Aku sungguh heran kemana kegelisahan yang tadi pastilah ada diwajahnya. Seakan tahu pikiranku ia mengangkan tiket yang baru saja dibelinya lalu tersenyum manja. Aku bertanya padanya, “Buat Aku?”. Wanita itu menganguk. Ia bangkit dan memegang tanganku. Di remasnya begitu erat. Aku sungguh bingung. Dadaku berdesir hebat. Isi perut ini meluap-luap. Mungkin saja kini wajahku telah memerah. Aku sungguh bingung. Pikiranku mulai gamang. Sesaat aku melepas semuanya. Tenang mencari jalan. Perlahan ‘ku tarik jemariku dari genggamannya. lalu kukatakan, “Maaf. Aku tidak mau”. Tiba-tiba saja ia marah-marah. Aku pun tidak tahu apa yang ia katakan dan mengapa. Kata-katanya teredam oleh langkah yang berlalu. Begitu cepat perginya seperti begitu capat kedatanganya. Ia menoleh padaku menunjukkan wajah amarah dan gelisah, kemudian hilang di telan keramaian. Udara menjadi sunyi sesaat. Setidaknya udara di hati ini. Kemudian oksigen-oksigen mulai dipompa jantung kehidupan ke dalam hati. Awalnya sesak. Namun sesaat setelahnya semua menjadi lapang.

Aku sungguh bosan terus saja duduk. Aku akan melihat-lihat. Aku akan melihat mana jurusan yang mungkin saja merupakan pilihan yang tepat. Tempat ini sungguh ramai. Cukup bervariasi orang yang ada disini. Sebagian besar adalah orang dewasa. Perawakan mereka sunguh meyakinkan kemapanan. Namun di sekeliling mereka tak jarang juga para remaja mengisi tempat. Ada juga orang-orang yang sudah cukup berusia di sini. Seorang lelaki yang sudah mulai memasuki lokomotif, hampir semua rambutnya memutih, menarik perhatianku. Ia tidak membawa apapun dalam perjalanannya. Ia hanya membawa apa yang ia kenakan. Ia pun pergi tanpa ditemani siapapun. Dan ku lihat yang mulai memasuki lokomotif itu rata-rata seperti dirinya. Sendiri dan sudah mulai menua. Aku beralih ke jurusan itu. Di loketnya cukup banyak yang mengantri. Dan dugaanku salah. Ternyata banyak juga remaja yang ada disini. Banyak juga wanita yang mengenakan jilbab. Dan cukup terkejut aku dengan pemandangan kursi tunggu keberangkatan yang kosong. Sebanyak ini yang membeli tiket tapi tidak ada yang menunda keberangkatan, atau pun sengaja memesan lebih awal untuk waktu yang telah mereka tentukan. Semua yang telah memesan tiket pasti langsung naik ke lokomotif. Aku sungguh tertarik dengan jurusan ini. Amat sangat tertarik. Tapi aku masih saja ragu. Aku bahkan sudah berada di antrian. Tapi entah mengapa aku berlalu dari sana dan mulai melangkah.

Seorang tua renta berjalan tertatih. Sepertinya baru saja dari sebrang. Tempat ke datangan. Ia adalah lelaki yang rapuh. Namun wajahnya menampakkan semangat. Tubuhnya masih bisa tertopang tegak. Namun tetap saja jalannya tertatih. Lambat menyeret langkah. Ia diiringi oleh beberapa orang. Semuanya jauh lebih muda darinya. Ia hampir saja terjatuh, dan dalam jangkauanku, ku topang tubuhnya. Lelaki tua itu tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Namun pengiringnya acuh saja. Mereka terus saja menggiring kakek itu ke loket. Aku dihiraukannya. Semakin penasaran saja aku jadinya. Ku ikuti kemana mereka melangkah.

Di antrian itu lumayan ramai. Tapi tidak dalam satu baris. Sepertinya ramai oleh orang-orang yang mengiringi. Sebagian besar menampakkan kemewahan. Dan jika diperhatikan calon pembeli yang datang kemudian, seakan pembeli buta jalan. Dan pengiringnya lah penuntun kemana mereka harus berada.

Rupanya kakek itu menuju jurusan ini. Ia mengantri dengan sabar pembelian tiket. Di jurusan ini ruang tunggu keberangkatannya lumayan ramai. Tapi kelihatannya hanya yang tua-tua saja yang langsung berangkat. Sedangkkan para remaja bahkan ada yang masih anak-anak sabar menunggu di kursi-kursi itu. Terkurung di kotak kaca bertahun-tahun lamanya. Semuanya sepertinya tidak sendirian. Tapi ada sebagian besar yang seakan sendirian dan termenung dalam diam. Aku pergi dari jurusan ini. Sepertinya aku tidak akan membeli tiket di sana.

Aku bingung harus kemana. Siang malam silih berganti namun aku sungguh tak peduli. Dampaknya yang kurasa hanyalah lelah. Aku kembali duduk. Bersahabat dengan pengerat-pengerat kecil. Tempat ini semakin ramai saja. Bahkan semakin bervariasi orang yang datang. Tapi kini aku tidaklah duduk sendiri. Ada seorang wanita sebayaku yang juga menanti disini. Sepertinya ia sama sepertiku. Sama-sama tidak memegang tiket dan masih saja belum menentukan jurusan mana pun untuk beralih. Lama kami duduk hanya diam. Berhari-hari, berminggu minggu bahkan hingga setahun masih saja diam. Sering kali ia melirik ke arahku. Wajahnya oval dengan dua bola mata yang sangat jernih. Wajah itu semakin unik dengan hidung mancung di apit pipi yang citrus. Ia memiliki kecantikan yang misterius. Bisa jadi sekilas biasa saja namun jika telah begitu lama bersanding dengannya kan dirasakan pesona wajah arabnya itu. Rambutnya kriting berantakan. Hanya di sisi ini saja yang kurang cocok. Wanita ini sesekali tersenyum padaku. Tapi tidak pernah ku lihat ia tertunduk malu.

Di kursi ini setelah beberapa bulan belakang tidaklah hanya kami berdua. Ada juga seorang lelaki kekar yang duduk bersebelahan denganku. Ia memegang dua buah tiket. Jurusan yang dipilihnya belum pernah ku datangai. Ia bercerita bahwa jurusan itu berisi orang-orang yang memiliki keraguan. Dan disana ada masa depan dijadikan sebagai patokan. Bahwa itu adalah jaminan tunggal yang mungkin dan selalu dituntut untuk tercapai. Lelaki kekar ini tersenyum pada wanita itu. Wanita itu membalas senyum. Mereka berbincang-bincang santai. Begitu akrab, sepertinya mereka sudah lama kenal. Aku sesekali mendengarkan gurau dan rayuan sang lelaki. Di pujinya semua yang bisa ia lihat pada diri wanita ini. Aku sungguh bosan. Tak lama setelah itu lelaki itu menawarkan tiketnya. Aku acuh saja. Walaupun jika wanita itu menerimanya berarti hanya tinggal aku dan pengerat kecil di kursi ini. Lelaki itu memelas menatap. Segala hal ia katakan sebagai pernyataan. Hingga akhirnya wanita itu menatapku. Tatapannya tajam dengan ekspresi kesedihan. Matanya mengatup sayu dan menerima tiket itu. Mereka berdua lalu bangkit bergandengan tangan meninggalkanku. Sebelum pergi wanita itu tersenyum ramah dan memperkenalkan namanya. “Aku adalah wanita. Kebahagianmu gapailah dengan doa. Di sini ujung penantianku. Jadi temukanlah ujung perjalananmu”, Katanya sambil menunduk manja di hadapanku. Aku hanya terperangah. Tiba-tiba seluruh sel di tubuh ini bergetar hebat dan tanpa kusadari aku sudah pergi berjalan. Terus berjalan. Sungguh jauh aku berjalan mengelilingi stasiun ini.Meninggalkan kursi dan sahabat-sahabat kecilku. Aku mencari dan terus mencari. Sebuah kursi yang masih bisa ku tempati. Bukan bersanding dengan pengerat lagi tapi yang lain. Mungkin ia mau memilih tiket bersama denganku.

Sudah dua tahun aku berputar-putar. Bahkan di tahun ke dua aku sudah acuh saja. Sampai entah sejak kapan seseorang telah menggandeng tanganku. Rupanya sangan menawan. Aku selalu membayangkan yang serupanya dalam lamunan. Periang yang mampu menundukkan keindahan pelangi. Beberapa waktu lalu aku hanya mengaguminya di kerumunan yang lalu lalang. Kini ia di sanding. Tersenyum ceria namun terkadang sendu. Bersama kami berkeling. Selalu saja mengelilingi stasiun ini tanpa pernah berhenti duduk. Sesekali aku menariknya ke salah satu loket dan ia mulai terdiam, membatu. Tak bergerak hingga aku alih haluan. Kami terus saja berputar-putar. Tak tahu aku kapan akhir perjalanan di stasiun ini. Stasiun takdir merajut indah hidup bersama dalam belahtera rumah tangga.

0 komentar:

Poskan Komentar