Rabu lalu
Sekita pukul sebelas malam jantung berdebar sangat kencang. Cahaya putih masih terlihat terang ketika jarum suntik masuk menembus nadi. Namun sakitnya hampir tak terasa. Tak terasa bahkan oleh orang yang sangat takut disuntik seperti ku. Kehawatiran menepis rasa sakit itu. Khawatir akan dosa-dosa yang masya Allah sangatlah banyak.
aku mengingat semua kesalahan yang telah ku lakukan. Dosa membayang seperti hantu yang menakutkan. Istigfar tak henti-henti ditiap tarikan nafas. takutku nafas-nafas itulah yang tersisa. Saat itu kepala ini seperti akan pecah. Tengkuk menegang sementara punggung panas, seperti terbakar. Tak ada lain yang ku khawatirkan saat itu selain amalanku, tak ada lain. aku bahkan tidak begitu sadar akan apalah yang menimpaku ini tetapi apalah yang akan menimpaku nanti.
23 tahun lebih Allah menganugrahkan nikmat usia ini. kondisi fisik yang sempurna. Kemampuan akal yang dapat berfikir dengan tak kurang sesuatupun. Sementara waktu-waktu itu seperti anai ketika ku sadari apalah yang berarti. Pendidikan formal, penghasilan, penghormatan, penampilan menarik, semua hanya kelebatan.
Dimalam itu aku tahu. Tiap detikan itu adalah anugrah. Tiap nafas itu dapat menarik hidayah. Detakan jantung harus beriring taubat. Karna cepat atau lambat adalah misteri kepastian. Astagfirullah.
Bismillah. Semoga detik ini dan kemudian dapat istiqomah
0 komentar:
Poskan Komentar